Rabu, 30 Mei 2012

A. KONTEKSTUALISASI TEOLOGI DALAM PERSPEKTIF MUAMALAT


BAB I
PENDAHULUAN
Doktrin islam secara substansial,tidak hanya semata bernuansa kerohanian,dalam artian mengklaim hubungan secara vertical dengan tuhan saja, sehingga otoritas agama hanya terbatas kepada sesuatu yang berifat ukhrowi. Akan tetapi lebih dari itu,doktrin islam bersifat komprehensif yang meliputi nuansa keduniawian,menyangkut hubungan horizontal sesama manusia dan makhluk lingkungan. Bahkan Allah sendiri lebih menekankan hubungan yang bersifat horizontal sebagai jalan bebas hambatan untuk sampai kepada hal yang bersifat ketuhanan.
 sebagai tumpuan instruksi tuhan dibeeri daya atau potensi untuk dapat berkreasi,kreatif dan dinamis dalam manjalankan roda kehidupan,sekaligus harus mampu sebagai maintenans pelestarian alam,mempertahankan keharmonisan alam,dalam artian secara moril manusia dituntutuntuk bertanggung jawab atas segala aktifitas dirinya. Namun di sadari kemampuan manusia adalah kemampuan manusiawi yang terbatas dalam radius kemanusiaan,jauh di bawa kemahakuasaan tuhan.
Dalam islam, spesifikasi pengkajian yang menyangkut pengenalan manusia dengan tuhan sehingga ia menyadari posisi dan keberadaanya dihadapan penciptaannya(Allah) dikenala dengan pengkajian teologi. Teologi merupakan instrument pembentukan sikap hidup rohaniyah yang harus memancar dan terlihat dalam keseluruhan kehidupan jasmaniah atau lahiriah manusia. Dengan demikian,melalui pengenalan teologi dapat melahirkan suatu pengakuan dengan keyakinan yang bulat bahwa hanya Allah sendirilah yang berhak di sembah dan di ibadati oleh hambanya.
Namun bertolak dari kenyataan bahwa sistim teologi yang di pwhami selama ini.objek pembicaraannya bertumpu kepada masalah keesaan tuhan,sifat tuhan dan keesaan perbuatan tuhan. Artinya hanya terbatas pada koridor keakidahan murni,dengan kata lain hanya terbatas dalam dimensi vertical,seakan-akan tidak ada keterkaitannya dengan pembentukan polah hidup dan aktifitas social kemasyarkatan (muamalat) yang berdimensi horizontal,bahkan terkesan pembicaraannya terlalu jauh intervensi terhadap urusan tuahn,mengurus perbuatan tuhan,mengurus akhirat dan mengurus segala macam yang tidak dirasakan (abstrak) daan belum dialami.
a. Latar Belakang
Sehubungan dengan paradikma yang ada maka perlu melakukan kajian teologi secar komprehensif sehingga terwujud suatu format teologi yang menularkan dimensi ketuhanan pada setiap lini kehidupan dan kepentingan menusia. Dalam artian teologi yang relevan dan kontektual dengan tuntutan kekinian,yakni teologi yang berkaitan dengan masalah da  norma-norma kemasyarakatan,kultur buday,serta gejala-gejala empiric. Dengan demikian teologi akan mampu berperan aktifdalam memberikan penjelasan-penjelasan dan makna-makna yang mendalam dari hakikat hidup manusia sebagai hamba Allah dan pemegang mandat khalifah di bumi.
b. Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah peranan kontektualisasi teologi dalam perspektif muamalat?
2.      Bagaimana Manusia dalam dimensi,seleksi dan kompetisi di dalam menerapkan teologi islam?
3.      Bagaimankah cara menerapkan eksposisi Teologi dalam bermuamalaat?
c. Identifikasi Masalah
·         Kontektualisasi teologi dalam perspektif muamalat
·         Manusia dalam dimensi,seleksi dan kompetisi di dalam menerapkan teologi islam
·         Eksposisi Teologi dalam bermuamalaat
d. Tujuan
Dengan di buatnya makalah ini, tersusun beberapa tujuan :
1.      Mengetahui peranan kontekstualisasi teologi dalam perspektif muamalat
2.      Mengetahui peranan  Manusia dalam dimensi,seleksi dan kompetisi di dalam teologi islam
3.      Mengetahui eksposisi Teologi dalam bermuamalat

BAB II
PEMBAHASAN
A.    KONTEKSTUALISASI TEOLOGI DALAM PERSPEKTIF MUAMALAT
Disiplin ilmu yang khusus membahas tentang ketuhanan : Aqidah atau iman di kenal dengan ilmu kalam atau teologi islam. Yaitu ilmu yang berisi alasan-alasan tentang akidah/keimanan dengan dalil rasional,berisi pula bantahan terhadap orang yang menentang akidah salaf dan ahlu al-sunnah. Teologi dalam pengertian yang sederhana adalah ilmu yang membahas tentang tuhan dan pertaliaannya dengan manusia,baik berdasarkan kebenaran wahyu maupun berdasarkan penyelidikan akal murni. Dalam teks lain dikatakan yaitu suatu kajian yang ingin memahami hubungan antara tuhan,manusia dengan alam. Jadi,dapat ditegaskan bahwa teologi merupakan rangkuman kepercayaan terhadap tuhan dan pertaliannya dengan alam dan manusia. Disini dapat di pahami bahwa teologi tentu saja menyentuh tatanan social yang secara kongkrit di alami dan dirasakan dalam hidup keseharian. Dan sebaliknya apabila teologi tidak membicarakan dan tidak memasukkan aspek social kemasyarakatan sebagai bagian objek pembahasannya atau d pandang tidak berwenang untuk itu,maka hal itu sebenarnya secara tidak disadari turut memberi andil bagi timbulnya sikap sekuler dalam islam. Disisi lain muamalat mengandung arti setiap sesuatu yang berkaitan dengan urusan kemasyarakatan,pergaulan hidup.,dan sebagainya.
Sehubungan dengan ini M.Hasbi Umar mengungkapkan bahwa muamalah meliputi masalah sosial yaitu segala bentuk aktifitas masyarakat yang berkaitan dengan kebiasaan,cara-cara dan hubungan antara mereka yang dapat diterima serta membentuk satu kesatuan yang serasi. Ia juga meliputi kebudayaan dan perilaku anggota masyarakat dalam menjalankan kehidupan mereka sebagai makhluk berbudaya.
Selanjutnya,di fahami sebagai rangkuman kepercayaan terhadap tuhan dan pertaliannya dengan alam,includemanusia,harus dijadikan sebagai energy penggerak dalam memformulasikan sistim jaringan dengan pencipta,antara sesame manusia dan makhluk persekitaran. Dengan demikian berteologi seseorang manusia akan tergiring,bahwa segala aktifitas kehidupan berujung dan bermuara kepada suatu keyakinan akan status diri manusia sebagai homo-religius (makhluk bertuhan) yang pada gilirannya menjadi insan pengabdi kepada tuhan pencipta alam.
      Bertolak dari konteks ini dapat di pahami bahwa eksistensi teologi dari beberapa aspek fungsi tidak terbatas hanya dalam batas keberakidahan dan keberibadatan,melainkan ia berfungsi pula bagi sekalian aktifitas sosial. Dalam artian berteologi tidak dalam bentuk rububiyah semata tapi juga meliputi uluhiyah. Maka substansi teologi merupakan keterpaduan antara keesaan aqidah,keesaan ibadah,dan keesaan muamalah. Artinya tuhan,manusia dan alam semesta sebagai suatu kesatuan konsepsi teologis. Manusia sebagai abdi sekaligus dinyatakan sebagai khalifah tuhan itu harus tetap konsisten berkemauan di dalam sekalian aktifitas pembangunannya bagi kemakmuran dunianya. Dengan perkataan lain bagaimana mengorientasikan paham ketuhanan itu dalam persoalan kealaman dan kemasyarakatan.
Dewasa ini tampak kecenderungan manusia untuk melalaikan kekuasaan tuhan yang mutlak.terutama setelah sains modern mendominir dunia modern. Bahkan ada yang meragukan bahwa rezki itu datangnya dari tuhan belaka,karena manusia sudah dipengaruhi atau dikuasai oleh cara berfikir yang rasional,positif, dan materialis, maka akhirnya mereka cenderung meninggalkan yang abstrak, yang metafisis dan supra natural. Sebagai akibatnya mausia modern, selalu mengidentikkan dengan rasionalisme,pragmatisme bahkan materialism.
Dalam pemikiran teologi ortodoks, dahulu orang mau kaya bermohon kepada tuhan,lain  sekarang,orang bergantung kepada ilmu ekonomi dengan melalui pertanian,tambang,pabrik dan sebagainya,begitu juga kalau sakit bermohon kepada dokter. Kalau hujan terus menerus orang meminta kepada seorang insinyur teknik,karena dengan tekhnologi  dapat menggali terusan,membuat waduk,sehingga banjir tidak timbul dan mendatangkan kerusakan.apalagi kalau diperhatikan perbedaan yang mencolok,yang mungkin di dapati antara kedaan sebagian orang beragama dengan sebagian yang kurang atau tidak beragama terutama di kota besar. Ada orang yang kuat beragama tapi kehidupannya susah,ekonominya melarat,dalam sosial dimarginalkan dalam politik lemah. Ada orang yang mengabaikan agama,kehidupan makmur,ia terpandang. Bahkan ada pula yang tidak beragama malahan menentang agama,kehidupannya jaya. Ada orang yang tidak mementingkan apa-apa yang yang diharamkan  oleh agama lebih berhasil atau lebih banyak mencapai kepuasan hidup daripada orang yang mengawal dirinya dengan apa-apa yang dilarang oleh agama. Kenapa Negara-negara  sekuler lebih makmur dan maju daripada Negara-negara islam.
Dengan demikian diwujudkan sebagai solusi dalam merekontruksi arti kehidupan manusia kepada sistim nilai islami Qur’ani,dimana setiap gerak dan aktifitas melahirkan suatu keyakinan bahwa segala sesuatunya dikerjakan Karena Allah;mematuhi Allah secara mutlak yang disebut memperhambakan diri.
















B.     MANUSIA DALAM DIMENSI,SELEKSI, DAN KOMPETENSI
Dalam konteks makhluk sejagad raya ini manusia adalah salah satu makhluk ciptaan tuhan yang serba komplit dan sempurna,manusia dilebihkan dan di istimewakan dari jenis makhluk lain. argumentasi ini diperjelas oleh firman Allah yang bermakhsud”yang membuat segala sesuatu yang dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai pnciptaan manusia dari tanah.kemudian dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. kemudian dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam rohnya dan dia menjadikan bagi kamu pendengaran,penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit lagi bersyukur.
Manusia dari aspek biologis termasuk organis dari jenis hewan yang di klasifikasikan kepada jenis insane. ia diciptakan berstatus dimensi ganda;rohani dan jasmani dengan dimensi rohani ia memiliki potensi batin yang mampu menggerakkan subtansi hiduppnya ke arah tujuan ia diciptakan,sedangkan ,sedangkan dimensi jasmani,manusia di lengkapi dengan seperangkat daya, sehingga ia mennjadi kreatif,aktif dan dinamis dalam mengelolah alam dan segala isi kandungannya,sekaligus ia diilhami energy perasaan,lalu ia memiliki kemampuan menjaga dan mempertahankan keharmonisan alam serta memelihara ekosistem alam. dan manusia sendiri dapat merasakan bahwa dalam dirinya terdapat daya dan energy tersebut,menjadikan ia percaya diri untuk menentukan sikap hidup yamng lebih baik dan terpuji, berarti pula menunjukkan bahwa manusia berkemauan bebas dalam menentukan sikap dan perbuatannya.
Pernyataan di atas menunjukkan menusia memiliki keunggulan dan keistimewaan diantaranya,karena kemampuannya dalam ilmu pengetahuan. kelebihan ini tidak dimiliki oleh makhluk lain termasuk para malaikat. dalam ungkapan lain manusia di unggulkan bahkan melebihi kekuatan jin karena pemilikan ilmu bila mampu mengembangkan potensi diri di dalamnya atau aspek kerohanian dirinya menjadi berilmu.
Islam sebagai agama rasional dan agama ilmu pengetahua,ia sangat serasi dengan sifat-sifat dasar manusia,ia diciptakan tuhan dinamis dan berilmu pengetahua. asal penciptaan manusia (adam) adalah dari tanah bumi,kendati keturunannya tidak disebut secara eksplisit dari tanah, namun sesuai dengan hasil penelitian sains,unsure kimianya sama dengan kimiawi tanah bumi. jadi manusia adalah makhluk bumi yang dibekali akal dan ilmu pengetahuan. karena ia akan mengemban tugas kekhalifahan di bumi ini. berarti betapa canggihnya perkembangan ilmu pengetahuan akan dapat di jangkau oleh daya nalar manusia karena penciptaan alam dan manusia telah di beri keharmonisan indah dan merupakan satu kesatuan yang organic.


















C.     EKSPOSISI TEOLOGI ISLAM DALM BERMUAMALAT

Dalam doktrin suatu agama,iman atau kepercayaan merupakan fondasi yang mendasari seluruh rancangan bangunan berbagai institusi kehidupan manusia yang pada gilirannya bangunan pemikiran yang akan di kontruksikan di atas pondasi tauhid,keakidahan(teologi). Dengan demikian pemikiran teolog adalah suatu peemikiran fundamental,kritis dan profetetik dengan segala realitas kongkrit tentang kehidupaan isi alam ini. Ia bersifat transformative, dalam artian mampu mentransformasikan manusia sebagai kholifah dalam proses penyempurnaan diri menuju insane kamil. Melihat urgensinya persoalan iman atau akidah ini maka perlu dikaji menurut teori keilmuan.
            Bertolak dari fakta umum bahwa diantara kelemahan umat islam ialah masih ada yang memandang bahwa islam itu sebagai agama saja,seolah-olah islam tidak termasuk cakupan pengkajiannya soal social,ekonomi,politik,ilmu,tekhnik,seni,dan filsafat. Lebih ekstrim lagi bahwa kebudayaan bukan lingkup pengkajian islam. Hal ini tanpa disadari,umat islam jatuh dimensi sekularisme.
            Seperti yang telah disebutkan sebelumnya,bahwa sebenarnya islam bukanlah agama yang hanya mengurus persoalan hubungan vertical antara manusia dengan tuhannya yang bersifat ruhaniyah dan sepiritual belaka,tetapi lebih jauh dari itu islam juga mengurus tata cara hidup bermasyarakat,menerangkan hak-hak manusia antar sesamanya.
            Namun salah satu produk pemikiran aqidah islam dalam tradisi ilmu kalam atau teologi islam adalah apa yang di kenal dengan The Greed Of Al Sanusi yaitu suatu kredo dogmatic dari abad kelima belas yang digunakan dikalangan muslim bahkan hingga sekarang.
            Dalam prakteknya teologi berperan menggiring manusia kepada kehidupan yang berkualitas,yaitu beraktifitas sesuai dengan status dan tujuan manusia di ciptakan. Hal ini dapat ditelisik dari beberapa terminilogi berikut :

a)      Kepemimpinan Umat

Islam mengajarkan bahwa seorang pemimpin adalah satu kemestian dalam suatu kelompok masyarakat baik kelompok kecil apalagi kelompok besar. Bertolak dari isyarat Al-Qur’an tentang pemimpin umat jelas bahwa manusia pertama di muka bumi ini langsung diberi mandate sebagai khalifah(pemimpin). Hal ini di jelaskan dalam firman yang bermakhsud :
“ingatlah ketika tuhanmu berfirman kepada malaikat: ”sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah dimuka bumi”. Dan firman Allah :” dan dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di muka bumi dan dia meninggikan sebahagiaan kamu atas  atas sebahagiaan (yang lain) beberapa derajat,untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya tuhanmu amat cepat siksaannya dan sesungguhnya dia maha pengampun lagi maha penyayang.
      Dari aspek keimanan bahwa umat islam di suruh mematuhi dan mentaati Allah kemudian Rosulnya. Seperti yang tertera dalam firman :” hai orang-orang yang beriman,taatilah Allah dan taatilah rosulnya,dan ulil amri di antara kamu. Kemudian rosulullah menegaskan dalam sebuah hadiitsnya:”apabila tiga orang bepergian maka hendaklah mereka melantik salah seorang di antara mereka sebagai ketua”.
      Melihat dari beberapa isyarat Al-Qur’an dapat di prediksi bahwa jabatan kekhalifahan di muka bumi,menjadi keinginan  setiap makhluk:malaikat,iblis,bahkan termasuk hewan. Kelompok malaikat umpamanya dari jawabannya dihadapan tuhan seolah-olah menetapkan criteria-kriteria siapa saja yang sepantasnya menjadi khalifah;yaitu bertasbih dengan memuji dengan terang-terangan menyatakan ketidak puasanya bila jabatan kepemimpinan di bumi di mandatkan kepada selain dari kelompoknya,seperti yang di firmankan Allah “ hai iblis,apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Ku-ciptakan dengan kedua tanganku. Apakah kamu menyombongkan diri ataukah kamu(merasa) termasuk orang-orangy yang lebih tinggi?” iblis berkata:”aku lebih baik daripadanya,karena Engkau ciptakan Aku dari api,sedangkan dia engkau ciptakan dari tanah.”
      Sebagai kompensasi dari kekecewaannya,iblis tidak mau tinduk atau sujud kepada Adam. Demikian juga kelompok hewan,juga tidak puas dengan kepemimpinan manusia bila dikaitkan dengan beberapa kelebihan dan keunggulannya. Karena,kelompok hewan juga bertasbih dan sholat seperti yang dijelaskan dalm firman Allah : kepada-Nya bertasbih apa yang ada di langit dan bumi dan juga burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui cara sembahyang dan tasbihnya,dan Allah maha mengetahui apa yang mereka kerjakan”.
      Sebuah kisah simbolis,yang terdapat dalam sastra islam,yaitu kisah manusia dibawa kepengadilan atau mahkamah para hewan. Hewan-hewan tidak rela lagi manusia memperalatkan mereka untuk kegunaan transportasi,makanan ataupun mengambil bulu mereka untuk di jadikan pakaian. Menurut pandangan para hewan,tidak alasan yang wajar untuk diberikan keistimewaan kepada manusia,baik dari aspek kegagahannya,kebolehannya melayang maupun kebolehannya bergerak di atas karena semua itu juga dimiliki oleh hewan. Namun demikian diakui bahwa manusia mempunyai potensi akal yang sangat tinggi tarafnya yang tidak dimiliki oleh hewan,sehingga tidak ada lagi hujahannya untuk menentang atau menolak keunggulan manusia atas merek. Makhluk hewan mempunyai nyawa yang menyebabkan hidup.namun tidak berfikir,mengembangkan diri,merasakan keindahannya yang hanya dapat dilakukan manusia karena ia mempunyai ruh. Ruh mempunyai beberapa kemampuan,seperti merasakan keindahan,membentuk konseep-konsep,dan merasakan kebahagiaan.
      Bertolak dari pernyatan di atas harus di akui bahwa kepemimpinan manusia akan terdapat keunggulan-keunggulan yang bersifat terpuji,di samping itu juga akan keunggulan-keunggulan dalam perbuatan tercela,jika tidak di ilhami dengan perasaan berteologi sudah barang tentu berpeluang banyak untuk melakukan penyimpangan-penyimpangan. Oleh karena itu,Al-Qur’an memberikan patokan bahwa jangan ada sistim kepemimpinan yang abadi. Pernyataan ini terdapat dalam firman yang bermakhsud:’dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)”.
      Syekh Jamaluddi al-afhgani dengan tegas menjelaskan harus ada pembatasan kekuasaan pemimpin sebagai pelaksana dan penegak hokum sekaligus menerangkan syarat-syarat yang ahrus dimiliki oleh seorang pemimpin. Maka yang memegang jabatan kepemimpinan,boleh siapa saja asalkan orang islam yang beriman. Dan ini pulalah yang dikehendaki dalam teori kepemimpinan menurut sistim telogi bermuamalat harus mau memperjuangkan nasib rakyat dan tampil didepan.sebagai pemimpin tidak hanya duduk di meja.
b). Peduli lingkungan

      lingkungan yang di makhsudkan adalah lingkungan alam sekitar manusia,dimana dalam konteks ajaran islam,manusia dituntut untuk menjaga serta memelihara kelestariannya,karena jika tidak demikian akan berakibat terjadinya kerusakan baik terhadap struktur alam maupun kepada manusia itu sendiri. Didalam Al-Qur’an dengan tegas Allah berfirman” telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagiaan dari (akibat)perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.
      Dari ayat tersebut di atas,jelaslah bahwa kita tidaklah patut untuk melakukan kerusakan pada alam apa lagi untuk memusnahkannya,karena manusia dan alam semesta adalah sama-sama makhluk Allah yang kesemuanya itu bersujud dan mengabdi kepada-Nya. Indikasi bahwa ada pelarangan mengganggu alam lingkungan terlihat dari firman Allah yang bermakhsud :” dan janganlah kamu dekati pohon ini,yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang dzalim.
      Pohon yang di larang oleh allah mendekatinya tidak dapat dipastikan,sebab al-qur’an dan hadits tidak menrangkannya. Ada yang menamakan pohon khuldi sebagaimana tersebut dalam surat thaha ayat 120,tapi itu adalah nama yang di berikan syaitan. Tidak ada salahnya jika dimaknai secara konekstual sesuia dengan kondisi kini,yaitu kerusakan alam dengan perusakan hutan yang tidak ada batasnya atau lebih di kenal dengan illegal loging,yang mengakibatkan terjadinya erosi dan polusi udara. Dengan demikian,keadaan alam,lestari atau tidaknya tergantung kepada perilaku manusia sebagai penghuni di atas bumi ini. Tindakan yang membawa kerusakan cepat atau lambat pasti akan merugikan orang lain secara keseluruhan karena tindakan seperti ini kontradiksi dengan prinsip-prinsip syariat.
      Perusakan dengan semena-mena termasuk penebangan hutan,merupakan perlakuan yang terlarang. Menurut hasbi umar,perlakuan itu adalah suatu pelanggaran,perampasan hak orang lain,dan generasi yang akan dating.dalam konteks  teologi bermuamalat,seseorang hamba tentu saja harus menjaga ekosistim alam,karena di dasari oleh kayakinan bahwa segala sesuatu itu saling berkaitan dalam mewujudkan suatu keamanan yang terpadu dan pada gilirannya akan mewujudkan suatu keyakinan bahwa makhluk,baik manusia,hewan ataupun alam lingkungan sama-sama memperhambakan diri dan sujud kepada tuhan pencipta alam.
c). Persaudaraan
      sikap berteologi harus dimiliki dengan baik,dihayati,serta di mengerti secara benar, hal itu akan menimbulkan kesadaran seseorang akan tugas dan kewajiban sebagai hamba Allah,termasuk kewajiban dan tugas memelihara persaudaraan sesame manusia. Islam telah menggariskan ersaudaraan sesame manusia untuk dipikul oleh umat islam yaitu menyeru pemganutnya agar berada dalam satu kesatuan social dan membian peradaban yang gemilang untuk menjadi contoh kepada seluruh umat manusia. Karena itu dalam islam tidak ada sistim kelas,strata,dan kasta apalagi menyebut ras dan etnis. Sistim social islam adalah bersifat universal,karena itu islam menyuruh agar saling menghormati sesame insan tanpa mengambil kira,waran kulit,bahasa dan bangsa. Setiap manusia yang lahir layak menjadi anggota kesatuan manusia ciptaaan Allah dan dihormati,dipandang mulia sebagai saudara. Di dalam Al-Qur’an di jelaskan :” hai manusia sesungguhnya kami menciptkan kamu dari seorang laki-laki dan seorang peerempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya Allah maha mengetahui lagi maha mengenal”.
      Dalam ayat tersebut memang di jelaskan seperti itu namun itu bukanlah untuk berbangga,panatik kesukuan (ashabiyah) atau bangsa masing-masing melainkan supaya kita  saling berkenalan satu sama lain,saling memperkenalkan adat budaya yang luhur dan bukan untuk merendahkan suku dan bangsa lain,karena kemulyaan itu bukan terletak pada kebangsaan seseorang melainkan terletak pada ketaqwaaannya kepada tuhan. Sehubungan dengan itu islam menentang keras sistim penghambaan terhadap manusia,baik secara rela maupun secara paksa. Jiwa persaudaraan sebenarnya merupakan fitrah atau naluri manusiawi yang di bawa semenjak lahir. Oleh karena itu dikatakan manusia mempunyai potensi untuk selalu berbuat baik,termasuk berbuat baik kepada sesame manusia,melakukan hubungan persaudaraan.
      Dengan demikian,dapat di tegaskan bahwa islam adalah satu agama yang mengajarkan kesetaraan. Dalam artian memandang seseorang itu setara dan sama,tidak ada satu kelebihan atau kemulyaaan kecuali kelebihan nilai-nilai ketaqwaan yang dimilikinya. Rosulullah pernah bersabda” bangsa arab tidak lebih mulia dari bangsa non Arab,bangsa non Arab tidak lebih mulia dari bangsa arab. Walaupun baginda adalah bangsa pilihan Tuhan. Dalam konteks ini akan bermuara kepada terwujudnya jiwa persaudaraan di kalangan umat islam. Sebagaimana di jelaskan dalam firman Allah yang bermakhsud “sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwa kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat”.
      Jadi,kehadiran islam sebagai agama rohmat lil ‘alamin membawa umat manusia pada kedamaian,ketentraman,dan kesejahteraan  baik secara individual maupun secara kolektif dalam koridor kehidupan social,berbangsa dan bernegara. Bahkan dunia,sehingga lingkungan aman dan suasana kondusif akan selalu terpelihara. Untuk menuju kearah itu,islam mengajarkan manusia untuk berpegang pada prinsip-prinsip persaudaraan,sebagai refleksi teologis dari doktrin islam.





0 komentar:

Poskan Komentar